Protected: Happy birth day Mom…

This post is password protected. To view it please enter your password below:

How Could i Not Love You??

Setting : SMP Swasta Katolik di kawasan Jatinegara. Sekumpulan ABG dengan seragam putih biru nya, ditengah persiapan Ulangan Umum, awal tahun 1997.

Tergopoh-gopoh aku memeriksa tas ku yang beriskan tumpukan buku. Dimanakah gerangan Si LKS ( Lembar Kerja Siswa ) yang sudah ku kerjakan semalaman tadi? Apakah tertinggal di rumah?? Waduuuuuh… celaka ini. Pak Warto, seorang guru yang SELALU memeriksa LKS siswa sebentar lagi akan masuk kelas. Kucari kesana kemari, dan nihil. Pasti tertinggal di rumah atau di dalam mobil jemputan sekolah, bathinku. Jantung berdegup lebih cepat. Apa yang harus kulakukan? Pastilah aku akan kena hukuman maut dari Pak Warto. Ahhhh… menyeramkan!!

Masih berusaha mencari jalan keluarnya. Ku coba untuk mencari ke kelas lain, siapa tahu ada yang membawa LKS tambahan yang belum di isi. ( hmmm.. sebenarnya ini pencarian yang sia-sia. Bukanlah LKS selalu di pesan tepat sejumlah siswa yang ada? ) Aku mendatangi kelas-kelas yang lain. Semua jumlahnya pas. Aku lemas, dan muka ku mulai pucat. Mungkin karena melihatku yang bolak balik antar kelas, si Bebek menyapa.

Bebek (B) : Kenapa loe?

Saiyah (S) : LKS gw ketinggalan bek… ngga tau ketinggalan.. ngga tau ilang. Mana ada PR dari Si Warto lagi ( jawabku penuh kecemasan dan sangat tidak sopan ^_^ )

B : Jam berapa Si Warto ? ( sama tidak sopan nya ;P )

S : Sekarang beeeeeek…. jam pertamaaaaaa. ( jawabku panik )

Si Bebek terdiam, kemudian pergi meninggalkanku menuju ke kelasnya yang bersebelahan dengan kelasku dengan setengah berlari. Dan kemudian, dia kembali dengan membawa sebuah LKS di tangannya.

B : Pake ini aja…. Belom di isi kok. ( katanya sambil menyerahkan sebuah LKS baru)

S : Punya siapa bek? (tanyaku)

B : Punya gw laaaah.. udah pake aja. Cepetan gih… loe kerjain ulang. Masih inget kan jawaban nya?

S : Kayaknya sih masih…. Loe ngga ada pelajaran Warto hari ini??

B : Ga ada! Cepetaaaan….

S : iyaaaaaah…  Thanks beeeeek… ( kataku sambil berlari ke kelasku dan buru-buru mengerjakan ulang, PR yang tadi malam sudah kukerjakan)

Sebisanya aku menuangkan apa yang ada di kepalaku, ke LKS nya si Bebek. Sebagian besar masih ku ingat, sebagian lagi aku mulai lupa. Bahkan sampai detik-detik Pak Warto akan mulai mengajar… aku masih berusaha menjawab pertanyaan- pertanyaan di LKS yang dijadikan PR hari itu. Pak Warto adalah salah satu guru senior, yang akan memastikan seluruh siswanya mengerjakan PR dengan sempurna. Jangan coba-coba tidak mengerjakan PR kalau kamu tidak mau berhadapan dengan dia , ataupun dengan kata-kata kalem namun nyelekit dari nya. Bahkan ketika PR mu kamu kerjakan, pastikanlah kalau kamu mengerjakannya dengan benar. Kalau tidak… ya sama saja resikonya. Hmmmm.. benar-benar detik-detik yang sangat menegangkan hari itu. 

Akhirnya, PR dapat ku kerjakan dengan sembunyi-sembunyi. Pelajaran Pak Warto, 2x 45 menit pun usai. Hatiku legaaaa… Jantungku yang dari tadi berdegup tak beraturan, rasanya ingiiiiiin di istirahatkan sejenak. Pelajaran pagi ini benar-benar seperti lari marathon bagiku.

Jam bergulir,  berganti kepada si Ibu Wulan. Aku menyenderkan pungungku ke bangku. Begini lebih baik. Si Ibu agaknya jauuuuuhh lebih mengerti keadaan siswa. Pelajaran ke dua akan jauuuh lebih santai pikirku. Kami belajar dengan lebih tenang. Di tengah – tengah pelajaran si Ibu, aku ingin buang air kecil. Mungkin ini akibat “lari Marathon” di pelajaran sebelumnya. Aku pun meminta izin kepada si Ibu untuk ke kamar kecil.

Toilet berada di ujung lain dari jejeran kelas kami. Berjalan dari kelasku, membuatku harus melewati beberapa kelas, sebelum mencapai toilet. Salah satunya adalah kelas si Bebek yang berada tepat di sebelah kelasku. Pintunya sedikit terbuka. Mataku menangkap sesuatu yang tidak beres. Aku melihat si Bebek sedang berlutut di depan pojok kiri kelas, di dekat pintu masuk. Pikirku… apalagiiii yang dilakukan si Bebek kali ini? Aku mengangkat alisku, berusaha mencari tahu padanya apa yang terjadi. Si Bebek menggelengkan kepala dan memberiku kode untuk terus berjalan. Aku mengerti maksudnya. Baiklah. Aku mempercepat langkahku menuju toilet. Dalam perjalanan ke toilet, aku berpikir… apa lagi yang kali ini dilakukannya? Kenapa dia kembali di setrap ( dihukum ) di depan kelas…. bebek… bebek.. batinku.

Bel istirahat berbunyi. Aku harus mengembalikan LKS nya dengan segera. Aku bergegas ke kelasnya dan mengembalikan LKS. Saat itu aku menemukan Si Bebek, berdiri di luar kelas.

S : Bek… makasih yaaaa…. Selameeeet gw

B : hehehe… bagus deh

S : Eh Bek.. loe kenapa  di setrap lagi???  Di setrap siapa loe?

B : ngga… ngga papa…

S : eiiiii… serius…. bandel lagi loe yaa?? Pelajaran apa bek ( tanyaku lebih lanjut )

B : Udaaaaaaah… ngga papa…. bawel amet sih loe…. ( katanya sambil menoyor jidatku , seperti biasanya)

Kemudian aku pun mengembalikan LKS nya tanpa banyak bertanya lagi. Akupun kembali ke kelas, menikmati masa istirahat yang hanya sejenak itu. Kebetulan, salah seorang teman kelas nya si Bebek, berkunjung ke kelasku. Penasaran dengan apa yang terjadi, aku bertanya kepada salah satu teman kami ini :

Saiyah (S) : eeeh… si Bebek ( tentunya dengan menyebutkan nama sebenarnya ) kenapa di setrap lagi?

Teman ( T) : ooo… dia ngga bawa LKS

S : LKS????? *mata melotot, mulai panik*  Pelajaran siapa???

T : Pak Warto

Sesegera mungkin, aku meninggalkan temanku, berlari ke kelas sebelah, mencari si Bebek,  kemudian berteriak… Bebeeeeeeeeeeeeekkkkk!! Ternyata si bebek sudah berada di dalam kelas kembali, sedang duduk di atas meja.

S : Bebeeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkk… loe tuuuuuuhhh.. ( aku tak mampu meneruskan kata2ku)

B : Apa aaan?? ( katanya sambil senyum )

S : (Sambil mengatur nafas yang belum juga stabil) Loe tuh yeeeeeeeeee…. loe bilang loe ngga ada pelajaran nya Warto… taunya… abis kelas gw… si Warto ke kelas loe… Kena setrap kan loe bek… gara-gara LKS loe gw pakeeee.. (kataku bertubi-tubi)

B : Udeeeeh… ngga papeeee…

S : Ngga papa gimana??? loe jd nya yg kena hukum beeeeek

B : Ngga papaaaa…. Kalo gw udah biasa kena hukum, nah elo??? ( katanya sambil menatap tajam mataku )

Kali ini aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Aku diaaaam…. hatiku sakiiiiiiit sekali rasanya. Sediiiiih krn dia harus menanggung hukuman yang seharusnya ditujukan padaku. Kaguuuuuummm pada kebaikan hatinya. Dan entah apa namanya yang kurasakan ini, tapi dia merasa bahwa dia sudah terbiasa dihukum, dan satu hukuman lagi tidak akan berdampak banyak padanya, sementara dia tahu kalau aku sangaaaat jarang dihukum. Aku hanya menatap dia.

B : Udaaaah.. ngga papa ne… tenang ajaaa… loe balik deh ke kelas… ini udah mau bel masuk lagi

S : trus loe?

B : Ya abis ini gw lanjutin deh hukumannya… hmmm.. siap2 aja nih lutut benjol… entar loe pijitin gw yaaaa abis ini… ( katanya berusaha membuat guyonan )

Aku masih diam… Bel berbunyi … Dia memegang bahuku.. menggiringku ke arah kelasku.

B : Udah sana, balik ke kelas. Udah bel tuh.. Gw ngga papa kok…. tenang aja.. Lutut gw kan kuat.. ngga kayak loe… (katanya berusaha bercanda)

Akhirnya aku masuk kelas. Kali ini aku menundukkan muka ku di atas meja… Cukup lama. Karena tak dapat dibendung, maka ada bulir-bulir air yang jatuh di ujung mataku. Sediiiiiiiiiiiiiihh sekali rasanya, terharu juga akan apa yang dilakukannya, dan juga sangaaaaaaaaaat menyesal, kenapa aku tidak mencari tahu keadaan sebenarnya, sebelum meminjam LKS nya.

Saat bel istirahat yang kedua. Kami pun bertemu lagi. Kali ini dia sudah mulai menggodaku yang masih saja terdiam. Mulai nyerocos kalau dia pegel dan merengek minta di pijat. Tapi tidak pernah kami lakukan… *hahaha.. ya iya laaah* Mungkin dia dapat membaca pikiranku. Kemudian katanya :

B : Ngga papa ne…. ngga usah loe pikirin…. toh jg gw blm bikin PR nya. Jadi kalo ngga minjemin loe… gw jg pasti kena setrap juga… nah skr kan lumayan… loe nya jadi ngga kena setrap. Dari pada dua-duanya kena setrap… haiyoooh.. Lagian loe kan udah jd ade gw… masak kakanya tega ngeliat ade nya di setrap… ayo panggil kaka sama gw dari sekarang ( katanya sambil mengacak-acak rambut gimbalku)

S : siaaaaaal.. ogah bgt gw manggil loe kaka. (kataku sewot) Makasih ya Bek… tapi lain kali loe ngga boleh gini lagi yaaa.. Gw akan inget ini seumur hidup gw (kataku menegaskan padanya… dia hanya senyum)

How could i not love him??? Tetapi rasa yang kami rasakan tidak pernah berubah. Tetap murni seperti anak SMP yang saling menyayangi. Tidak ada perasaan ingin memiliki, atau ingin menguasai. Begitulah segalanya terjadi..

Kini sudah 17 tahun persahabatan indah ini terjalin, tanpa ada interupsi dari perasaan2 tidak penting lainnya. Aku mengasihinya dan diapun mengasihiku.. sama besarnya, sama koridornya… dalam balutan yang namanya PERSAHABATAN…  Yup.. ini persahabatan lawan jenis paling tulus, paling murni, dan paling lama yang aku miliki.. I love you, bebek jeleeeeeeek :D ….

Me and Bebek, persahabatan

.s.e.a.n.d.a.i.n.y.a.

Pembinaan Ibsus Care and Aware sudah selesai.. Thanks God. Di hari terakhir.. aku bangun pagi, di Puncak Kana dan merasakan sakit di tengkuk belakang sebelah kiri. hmmm…  ya ngga salah juga… karena seminggu sudah aku tidur hanya dua sampai tiga jam sehari. Tapi kok sampai di hari ke empat ini, rasa sakitnya masih ada yah??

Pagi ini aku bangun, merasakan sakit di atas tengkuk, sebelah kiri bawah. Ketika aku menoleh ke kiri, rasa sakit nya akan semakin terasa. Jujur dalam hati ini.. aku mulai was was, mempertanyakan ada apa dengan kepalaku. Sejak 31 Jan 2003 segala sesuatu yang berhubungan dengan kepala dan syaraf, memang sudah mewajibkanku untuk lebih hati-hati.

Sejenak berpikir.. seandainya.. SEANDAINYA .s.e.a.n.d.a.i.n.y.a. loooh.. aku harus kembali ke rumah Bapa beneran.. dalam umurku yang masih muda… hmmm… aku siap. Toh juga ini sudah kesempatan yang kedua buatku. Tapi kalau boleh aku meminta.. janganlah kepergianku menyusahkan kedua orang tua ku, adikku, sahabat-sahabatku dan keluarga besarku. Kalau boleh aku meminta.. ya seperti 2003 itu saja. hehehe..  Tapi ada dua yang mengganjalku sebenernya.. pertama Thesis ku yang belum kumulai, dan yang kedua adalah tagihan di kartu iblis. hiks.. hiks.. hiks… Seandainya kedua hal ini sudah beres, alangkah indahnya. So aku tidak menyisakan tanggungjawab.

Hmmm… aku berpikir.. aku takut mati ngga yah?? Kehidupan setelah kematian itu seperti apa yah?? katanya dunia ini hanya persinggahan semata. Katanya di surga nanti.. kita hanya akan bersenang-senang, memuji dan memuliakan Tuhan dalam kemegahanNya. Tapi suaraku kan jelek, Tuhan. Blm lagi aku suka bosan dan malas2 an dalam pelayanan ku di dunia. Trus kalo disana aku bosan.. ntar dibuang kemana saiyah nya?? fiuuuuhh… kacau juga yaah.

Aku takuuuut sekali datang ke pengadilan Tuhan.. Ya bagaimana tidak, DIA Maha Tahu segala hal yang kulakukan di dunia ini. Dikepalaku, nanti mungkin akan dipasangkan layar guedeeeeee bgt yang memutar kehidupanku dari kaca mata NYA.. huaaaaaaa…. bagaimana mungkin aku mengelak akan segala dosa-dosaku, niat buruk ku, pikiran negative ku, perkataan2 yang tidak membangun??

Mungkin aku baru akan melihat maksud dan tujuan Tuhan dalam hidupku disana. Terhadap apa2 yang DIA izinkan terjadi padaku, dalam satu puzzle utuh, bukan dalam satu kepingan-kepingan yang selama ini mampu aku lihat. Dan betapa aku sering menyalahkan Tuhan.. atau protes sama Tuhan akan apa yang terjadi dlm hidupku.

Dan bagaimana mungkin.. Tuhan yang pernah dua kali menampakkan kemuliaanNya kepadaku, bisa kutampik dan ku nomer sekian kan?? *haiyaaaaah.. saiyah merinding.. takuuuuut*

Dapatkah segala airmataku nanti memperoleh belas kasihan Nya?? Sedang di dunia ini aku setiap hari sudah memperoleh belas kasihan Nya. Aaaahhh…

Bagaimana Si Bapak dan Si Mama akan menghadapi hidup setelah ini yah?? My only bro?? Pastinya akan sedih. Sedih apa engga yah? hahaha.. But life must go on. Ibsus gimana yah?? 7 tahun sudah aku mengawal ibsus dengan segala intrik2 yang ada di dalamnya. Hmmm.. aku berharap, Tuhan berbelaskasihan atas Ibsus.. sehingga di dalamnya, akan lebih banyak lagi orang-orang yang jauh lebih hebat dan indah di mata Tuhan mau melayani Nya dan melayani jemaatNya dengan sungguh2. Trus, sahabat2ku… hehehe.. ada Nitnut, Venta, Windie, Edu, Bang Ajoen, Binz, Ronald si bebek, Pitoy, Cecil, Rika, Mincut, Lenny, Juni si manusia ajaib, Yoan, Hervi, Miri, Mitzu, Lady the rabbit, AA, Incut.. Wait .. wait.. AA and Incut?? hmmm.. saiyah rasa.. mereka bukan orang2 yang akan kehilangan saiyah.. Bahkan saya jg tidak merasa mereka peduli. Anyway, I wish you know how much i do love you both.. terutama buat sahabat saiyah si incut :(

Satu dua minggu.. mungkin akan berasa buat mereka. Tapi lebih dari itu?? hehehe.. Mungkin mereka udah kembali ke aktifitas masing2.. ngga pernah inget deh akan pernah ada nya seorang habis gelap terbiltah terang… Ya sesekali mungkin akan ingat kalo ada event2 tertentu.. hehehe… Lord knows.

Apapun yang terjadi.. ajar aku untuk mempersiapkan segala nya ya Tuhan. Dan ajarku untuk memanfaatkan sisa waktu yang masih Tuhan izinkan, untuk memuliakan Mu. Karena satu-satu nya tujuan Engkau menciptakanku.. hanyalah untuk kemuliaan Mu. Sesungguhnya aku ini adalah seorang hamba, terjadilah padaku sesuai dengan kehendak Mu.

Untuk Bapak :)

T.F. Panjaitan01.01.11

Hari ini adalah hari pertama di 2011. Hari ini juga adalah ulang tahun pria terpenting dalam hidupku, my dear daddy:)  Banyak hal yang kupelajari dari beliau, tapi tetap tidak bisa menyamai sejengkalpun dari dirinya. Bapakku ( begitu aku biasa menyapanya), adalah pekerja keras. Dia terbiasa mandiri sejak lahir… hehehe.. I will tell you why later. Kalau ditulis satu persatu.. tidak akan pernah habisnya aku mengagguminya. Ia hanya orang biasa, Batak tulen, berperawakan Ambon, berwatak keras,  jarang ke gereja, tidak berjiwa seni sama sekali :)

Dia yang menjerumuskan aku ke dunia public speaking. Jika dulu aku hanyalah seorang anak sangat sangat sangaaat pemalu, maka dialah yang dengan segala cara, memaksaku berdiri di depan panggung, untuk alasan apapun. Kini, walaupun aku harus berkata-kata di depan 1000 orang lebihpun, aku tidak  akan merasa canggung :D  Terima kasih Pak.

Ketika aku dulu berbohong, dengan menyembunyikan nilai ujian ku yang mendapatkan nilai 5 kala di bangku SD kelas 4, beliau habis – habisan memarahi aku. Bukan karena nilaiku jelek ( entah mengapa aku bisa mendapat nilai 5 buat matematika semudah itu… ) tetapi lebih karena aku tidak jujur padanya. Aku melihat kekecewaan besar di dalam mata nya. hiks.. hiks.. dari situ aku berjanji, untuk tidak akan pernah tidak jujur lagi padanya. Oleh karena beliau, maka sepanjang SD sampai SMP, nilai matematika ku tidak pernah luntur dari angka 8. Kupersembahkan nilai 9.60 pada NEM matematika SD, dan 9.00 pada NEM matematika SMP untuk mu, pak. Sayang di SMA, aku belepotan :( Really sorry. Tapi aku menebus nya di kuliah kan pak… Triple A untuk ke tiga nilai Kalkulus :)

Ketika aku pertama kali mendapatkan haid, maka malamnya beliau berbicara dari hati ke hati. Kalau dingat masa itu, rasanya aku ingin sekali masuk ke dalam selimut dan tidak keluar lagi selama berbulan-bulan. Malam itu pembicaraan kita sangat singkat. Namun aku masih ingat setiap kata yang Bapak ucapkan : “Inang, Bapak mendengar kau sudah mendapatkan anugerah itu ( tanpa menyebut nya dengan haid.. sungkan kali yaah ). Kau sudah besar sekarang, sudah mulai dewasa. Dijagalah anugerah itu. Jangan sekali pun kau merusaknya. Kalau kau kenapa-kenapa, bisa mati Bapak” Huaaaaaaaaaaa….. dari detik itulah, aku bertekad menjaga kekudusan sampai nanti kuberikan kepada lelaki yang sudah disiapkan Tuhan buat ku. Sejujurnya Pak, di tengah pergaulanku yang luar biasa bebas, sangat mudah bagiku untuk jatuh sewaktu-waktu. Tetapi oleh karena perkataan Bapak saat itu, maka aku mati-matian menjaga amanat ini. Dan kini aku sungguh bersyukur, karena segalanya tidak sia-sia.

Satu lagi pesan Bapak ku, yang belum bisa kubuktikan, adalah membawa seorang pria yang akan dipanggilnya dengan Amang Hela ke hadapannya. Maafkan aku, Pak. Namun satu kata-kata nya yang akan selalu terpatri dihatiku : ” Inang, nanti kau harus menghormati suamimu lebih dari apapun. Kamu harus menjaga hatinya. Dan kau harus menjadi sandaran hati nya.”  Setiap kali aku mengingat ini, aku selalu saja merinding. Betapa tidak, kata-kata Bapak ini sungguh amat benar, dan sungguh amat tidak mudah buat kujalani. Tetapi biarlah, seperti sebagaimana aku menuruti kata-katanya selama ini, biarlah nanti Bapak ku sempat melihatku menghormati suamiku. *merinding lagi*

Bapak adalah anak bungsu dari empat bersaudara, semua pria. Entah bagaimana rasanya, tetapi Bapak ku tidak pernah merasakan memiliki Ayah. Opung Doli ( Kakekku) meninggal, ketika beliau menolong orang yang sedang kebakaran, ketika Bapak ku masih lima bulan di kandungan Opung Boru ( Nenekku).  Sejak saat itu, Opung Boru berikrar, untuk tidak akan mencari pengganti suaminya, dan bertekad akan menjadi ibu sekaligus bapak buat keempat anaknya. Jadi, Bapakku itu tidak pernah merasakan ataupun melihat bapaknya sama sekali. Dibesarkan oleh seorang ibu, janda cantik di masa nya, dibantu oleh ketiga abangnya, maka hidup Bapak dari kecil tidak pernah mudah. Segala sesuatu dijalaninya dengan penuh perjuangan. Prinsip hidupnya yang kupegang adalah : “kalau orang lain bisa, maka kitapun pasti bisa” dan satu lagi “jangan pernah bilang tidak bisa, sebelum mencobanya” .

Hari ini, hari yang indah. Aku memantapkan hati untuk beribadah. Kali ini aku ingin sendiri, benar-benar sendiri. Menikmati waktuku bersama dengan Tuhan di awal tahun. Hari ini aku beribadah di luar gereja asalku. Aku ke Duta Injil, Ambassador. Hari ini ada perjamuan Kudus, dan aku datang atas nama Bapakku. Hari ini, aku memohon belas kasihan Tuhan atas Bapakku, berdoa dan memohon, agar Tuhan berbelaskasihan kepada anak yatim-piatu yang hidupnya selalu keras ini. Aku memohon, kiranya Tuhan berkenan memudahkan sedikiiit saja hidup Bapakku, kiranya Tuhan menyentuh hatinya, dan kiranya Tuhan terus-menerus memegang tangannya. Hari ini aku mengangkat Roti dan Anggur, dengan penuh derai air mata, karena hari ini, aku mau berdiri buat Bapakku. “Sudah banyaaaak yang beliau lakukan buat kami, sudah terlalu banyak yah Tuhan. Kiranya Tuhan mau berbelaskasihan atasnya. ” pintaku dengan hati yang bulat. Hmmm… banjir sudah. Tetapi setelahnya, hatiku pulang dengan tenang. Aku tahu, Tuhan tidak pernah menolak permohonanku yang kupanjatkan dengan segenap hati.

Pulang dari Ibadah, kusempatkanlah mencari sebuah kado kecil yang akan kuberikan padanya. Sibuk mencari-cari, waktu terus bergulir. Sampai di rumah, aku kelabakan, karena aku lupa membeli bungkus kado nya *gubraaaaak* Kuputar otakku untuk memanfaatkan apa yang ada disekelilingku :)

Selamat Ulang tahun ke 64, Pak. Tuhan memberkati Bapak, kiranya Tuhan bersabar terhadap Bapak, dan Tuhan menyertai Bapak dalam segala hal. I love you so much, Mr. TF Panjaitan :)

 01012011, aku mendedikasikan blog pertamaku di tahun 2011, untuk Bapakku.

Father We Commit

Beberapa waktu yang lalu, aku mendapatkan lagu ini dari seorang teman.

Setiap kali aku mendengarkannya, aku merinding, jiwaku meletup.

Biarlah ini akan menjadi salah satu symphony manis yang akan hadir secara nyata di dalam kehidupanku suatu hari nanti.

Dan jauh di dalam sanubariku aku berharap, kiranya engkaulah yang berada tepat disisi kananku saat lagu ini dinyanyikan :)

Yang Tak Bisa Diucapkan Ayah

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya….. Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari. Tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…

Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,  Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka…. Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

 Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja…. Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga.. Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu… Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama…. Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’) Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu.. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu? Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…

Dan perasaan khawatir itu berlarut – larut… Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. . Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? “Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti… Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa Ketika kamu menjadi gadis dewasa….

Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain… Papa harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. . Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat. Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa. Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan… Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!” Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya. Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin.. Karena Papa tahu….. Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya…. Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, lalu menangis? Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa…. Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik…. Putri kecilku yang lucu dan yang sangat kucintai itu telah menjadi wanita yang cantik…. Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk… Dengan rambut yang telah dan semakin memutih…. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya…. Papa telah menyelesaikan tugasnya….

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita… Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat… Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis… Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. . Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal.. 

Galz :

Saya mendapatkan notes ini dari seorang teman, dan mungkin ada baiknya jika aku kembali membagikannya kepada teman-teman ku yang lain. Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT ! Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita… tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya ;) Yes I love you so much, Pa…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 115 other followers