Tuhan (tidak) Jahat

Tuhan, menurutku… Tuhan itu jahat. Amat sangat jahat padaku

Penggalan kalimat itulah yang kutuliskan di dalam buku harianku, pada hari Jumat 25 Mei 2012, malam hari sebelum tidur, setelah hampir setahun aku tidak menyentuhnya. Aku merasa Tuhan itu jahat padaku. DIA tidak memberikan apa yang kuinginkan, apa yang kuminta dengan sangat kepada NYA. Aku pun kemudian mogok bicara pada NYA. Biasanya, aku selalu bercerita ataupun sekedar ngobrol bersama NYA. Tapi kali ini, aku merasa TUHAN tidak mendengar, TUHAN tidak peduli. Buat apa aku harus mengobrol apalagi meminta kepada NYA.

Menurut pikiranku, menurut penglihatan ku, semua yang terjadi di hidupku saat ini, amat sangat jauh dari baik – baik saja. Bahkan lebih dari itu, hancur lebur. Tidak ada yang sejalan denganku.

Lagi-lagi, indikator nya memang satu sih… [A][K][U].

Hmmm.. dua hari kemudian, menjadi dua hari yang paling panjang dalam hidupku. Benar-benar bersasa seperti Zombie. Hidup tapi tidak hidup. Lalu kuputuskanlah untuk mengakhiri hal ini. Sore itu, aku memutuskan untuk beribadah sendirian, di suatu tempat yang memang sering kali kudatangi ketika aku putus asa. Aku mengambil tempat agak kedepan ( Baca : kedepan speaker ). Maksudku, seandainya hatiku memang terlalu bebal untuk mendengar, mungkin dentuman lagu atau pun hamba NYA yang berbicara, akan sedikit terbantu dengan suara speaker yang menggeram kencang di telinga ku.

Satu dua lagu sudah dinaikkan, aku hanya bertepuk tangan dan senyum, seolah hati ini tidak ikhlas bernyanyi dan memuji DIA. Oh iya, sebelum ibadah dimulai, untuk pertama kali nya setelah dua hari,  aku berkata kepada TUHAN : “Hmmm.. Tuhan.. here I am… Kalau TUHAN ingin berkata-kata kepadaku, silahkanlah katakan sekarang. Aku….” Tidak kulanjutkan lagi kata-kataku. Aku diam.

Selanjutnya, TUHAN seolah – olah berkata-kata kepadaku, dan kepada orang lain juga  tentunya, dengan cara NYA masing-masing. Semua perkataanNYA tertuju pada satu makna : TUHAN itu baik! Kamu melihat hanya pada satu sisi, sedang DIA melihat “BEYOND” . Mungkin aku tak mengerti apa yang terjadi saat ini, karena yang tersisa padaku saat ini hanyalah air mata dan kesedihan. Tetapi, DIA yang sudah merancangkan segala yang baik untuk aku. Mungkin, aku hanya harus melewati segalanya saja saat ini. Dan kenyataan, kalau DIA tidak lalai dengan janjiNYA. Baiklah, pesan yang teramat jelas di telingaku. Perlahan-lahan, aku berkata : TUHAN, aku mau melepaskan impianku, melepaskan keinginanku, karena aku pun tidak tahu, apakah itu yang terbaik buat ku atau tidak. Aku juga mau melepaskan dia, melepaskan rang yang teramat ku sayangi, orang yang saat ini kupikir adalah yang terbaik bagiku. Kalaupun nanti TUHAN mengizinkan kami untuk bersatu, maka biarlah dia yang akan berjuang kembali untukku. Kalau tidak, berarti aku harus belajar percaya, kalau TUHAN menyimpan yang lebih baik lagi. Ternyata, Tuhan itu (tidak) Jahat. Karena TUHAN YESUS memang baik, untukku. You know what.. lagu penutupnya…. here it is :

Tuhan Yesus Baik

Apapun yang terjadi di dalam hidupku, slalu kuberkata Tuhan Yesus baik

Dalam segala hal yang terjadi, tetap kuberkata Tuhan Yesus baik

Kusembah Kau, Kusembah Kau,

Tak dapat kumembalas kasihMu,

Kusembah Kau, Kusembah Kau Bapa, Kurindu slalu menyenangkanMu

Selama Masih Ada Pelangi

Taraaaaa… tiba saat nya saiyah harus menulis secara khusus. Kenapaaaa?? Karena mulai malam ini, pukul 00.00 saiyah resmi meninggalkan umur di kepala 2 (Ada yang minta penjelasan khusus ?!?!?!) Teringat kembali ke masa 10 tahun silam, aku juga deg2 an dengan pergantian digit awal yang tadi nya 1 something ke 2 something. Dan ternyata, sekarang ini, saiyah kembali akan masuk ke masa tersebut :D   Lucuuuuk yaaah.. knp jg harus deg2an? Toh juga segala pengalaman di kepala 2 membuat saya bersyukur dengan segala pengalaman dan cerita-cerita manis di dalam nya.

Yaaah… siap tidak siap, mau tidak mau, dua jam kedepan saiyah resmi berumur kepala 3. Waktu tidak bisa diputar kembali. Mau saya bilang, freezeeee jg tidak akan berhenti waktu nya. Sekarang, bagaimana saya harus menghadapi segala nya saja.

Honestly, I’m not ok. Ada satu pengalaman yang terjadi di akhir usia saya ke 29, yang membuat saya menjadi amat sangat tidak percaya sama yang namanya persahabatan di lingkungan yang berbau rohani. Untuk kedua kalinya, kembali saya merasakan pengkhianatan. Rasanya? Sakiiiiiiiiiit. Bahkan untuk percaya lagi, saya rasa akan teramat sulit. Ibsus lepas dari tanganku.. hmmm… atau mungkin… (tanganku berhenti sejenak, bingung mau nulis apa), setelah sembilan tahun aku mengawal nya. Sejak hari pertama Ibsus ada di 17 Agustus 2003 aku sudah berdiri di depan pintu, deg-deg an bareng Amang Pdt. Arthur Sitorus, menunggu apakah ada jemaat yang akan datang ke Ibadah yang dikategorikan kontroversial (saat itu). Dan 31 Maret 2012, resmilah saiyah “ditaruh di luar”, oleh orang-orang yang sangat saya kasihi. Bahkan beberapa hari sebelumnya, sempat tepikir oleh ku, jika ada salah satu dari mereka yang mengalami “Surat kecil buat Tuhan”, maka saya akan dengan ikhlas menggunduli rambut gimbal saya untuk mereka. Aahhhhhh… Saiyah tidak sanggup untuk menuliskan hal ini lebih panjang… benar-benar tidak sanggup. Yang kutahu, aku harus tetap berdiri di luar, sebatas memandang dari kejauhan saja (!-.-!)

Study saiyah di PPM masih menggantung. Ini sebuah hutang, yang belum kulunasi kepada sekelilingku, terlebih kepada kedua orang tua ku. Sedih?? *hmmmm…. harus yah ditanyain lagi??*

Kantor? Taraaaaa.. saiyah masih di tempat yang sama seperti tujuh tahun yang lalu, tepat nya 15 Juni 2005. Seminggu ini, saya baru mulai resmi melamar ke kantor yang baru. Tetapi.. saya mau liat hasil pertemuan dengan Bos Guedeee yang rencana nya di reschedule menjadi besok *yaiiiiii… tepat ultah ku* Semoga hasilnya bisa menjadi salah satu kado istimewa di ulang tahunku :) *Amiiiiiiiiin*

Relationship. Jiaaaaaahhhh… di tengah-tengah teman sebayaku yang sudah menggendong anak ( bahkan Nit But, sahabatku sendiri, sudah memiliki dua anak) , justru saiyah yang masih melenggang kangkung sendirian. Susah amet apa yah Tuhan untuk memasuki tahap yang satu ini??? Hmmm… Sudah ada dua nama yang sebenernya saya doakan secara khusus…. Eh jadi tiga deeeh.. dulu ada satu , ketika aku masih awal 20 an  *Hampir lupa sama situh* . Tapi yang beneran di doain, emang cuma dua. Yang terakhir ini, namanya malah sampai ku taro di bawah Altar :) Saiyah tidak mau gegabah dalam hal ini. Pernikahan adalah janji kudus, antara Saya, dia (yang bahkan belum ketahuan siapa namanya), dan Yang Maha Kudus. Kalau boleh, memang saya me request si Tukang Kayu. Entah kenapa, aku amat sangat menyayanginya. Tapiii… sekarang saiyah sudah tidak mau bela-belain lagi. Saiyah harus diperjuangkan, bukan saiyah yang harus berjuang mati-matian. Ya kuserahkan segala Nya dalam tangan Mu. Bukankah Engkau yang sudah berjanji kepada ku? Bukan kah, janji Mu itu : YA dan AMIN??

Keluarga? Puji Tuhaaaan… saiyah masih diberikan kesempatan memiliki Bapak dan Mama lengkaaaap sampai hari ini. Ada adik ku juga yang terkadang menyebalkan *Upppss*. Bersyukur luar biasa buat keberadaan mereka.

So, kalau boleh ku tandai, beberapa hari BESAR buat ku di umur 20 an ini *Yaaaak.. sebagian mungkin akan menyusul kemudian, ketika inget :D

- 19 July 2000 : Resmi diterima di Univ Trisakti Jakarta, T. Industri

- 30 Januari 2003 : After Death Experiences, What amazing Jesus that I have. He is a trully GOD.

- 12 Jan 2003 : Resmi keluar dr RSCM

- 17 Agustus 2003, jam 15.40 : Ibsus HKBP Jatiwaringin edisi perdana

- 7 May 2005 : Ultah ke 23 sekaligus Wisuda S1, di JHCC *Yipiiiieee*

 - 15 Juni 2005 : Diterima di PT. Arpeni Pratama Ocean Line, Tbk.

- Maret 2008 : Menjadi waka Tim Ibsus

- 14 Feb 2009 : Ditahbis menjadi Komisi Beasiswa HKBP Jatiwaringin

- 29 Oct 2009 : Blog ini pertama kali dibuaaaat atas dorongan Ka Bekka Simanjuntak :D

- 31 Maret 2012 : Resmi ditaruh di luar Tim Ibsus :’(

- 1 April 2012 : Ditahbis jd Koord Bid Khusus Beasiswa +  Anggota Seksi Pendidikan HKBP Jatiwaringin

- 6 May 2012 : detik – detik pergantian umur :D  

Segala yang terjadi dalam hidupku… pasti ada rencana Nya. Walaupun aku deg-deg an untuk hari esok, walaupun banyak doa yang belum di jawab, aku mau percaya sama Tuhanku. Terima kasih atas penyertaan dan berkat, serta kesempatan hidup kedua yang Tuhan berikan kepada saya. Kumohon, jadikanlah aku pribadi yang berguna di masa-masa yang akan ku songsong. Berkatilah kedua orang tuaku, dan pertemukanlah aku dengan pria yang sudah Kau janjikan. Oh iya, ini salah satu lagu yang sangat ku suka . Judulnya Pelangi Sehabis Hujan. I love rainbow. Bukankah selama masih ada pelangi, artinya Tuhan mengingat segala janji Nya pada ku?? Btw, bsk boleh ga Tuhan kalo aku minta lihat pelangi :)

PelangiJalan hidupku tak selalu, Tanpa kabut yang pekat
Tapi kasihMu nyata padaku, Pada waktuMu yang tepat
Reff :
Seperti pelangi sehabis hujan, Itulah janji setiaMu Tuhan
Dibalik dukaku telah menanti, Harta yang tak ternilai dan abadi

Mungkin langitpun tak terlihat, Tertutup awan tebal
Namun hatiku kan tetap kuat, Oleh janjiMu yang kekal

Bersamaku

Hari ini, aku kembali harus latihan persiapan Ibadah khusus (Ibsus) untuk hari Minggu ini. Sebenarnya, bukan jadwalku, tetapi karena Arvin berhalangan, maka kami bertukar tanggal.
Minggu ini bukan minggu yang mudah buatku. Di awal minggu ini saja, si boss sudah membahas masalah absensi. Yaaah… Kebiasaanku untuk selalu datang “on time” jam 9 , sudah benar2 harus diperhatikan. Sekelilingku mulai jealous karena aku selalu datang jam 9 setiap pagi nya (harusnya sih 8.30). Amat sangat berat bagiku untuk datang lebih pagi, karena lalu lintas luar biasa macet di jam jam tersebut. Dalam hati aku berkata, aku hanya minta pengertian 30menit setiap harinya. Toh juga hal itu selalu kutebus dengan pulang lebih malam dari seharus nya. Aku juga tidak pernah keluar buat bandel-bandelan di jam kerja. Toh segala pekerjaan dan tanggung jawabku selesai. Bahkan aku mengerjakan banyak hal di luar tanggung jawab utama ku. Hal ini membuatku merasa sangat tidak nyaman dalam bekerja. Performanceku turun jauh minggu ini. Hopeless! Aku mulai mengirimkan lamaran kerja ke tempat lain.
Masalah hati?? Hehe.. Ini juga menggangguku sih. Si Tukang Kayu tak pernah online sekalipun. Pikirku, mungkin account ku sudah di block oleh nya. Mungkin dia memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi denganku (mungkin loh yaaaah.. hanya mungkiiiinn.. *jediiiiik*) Hmmm… Pastinya aku kangeeeen! Tp entahlah… Rasaku ini benar atau salah.
Kemarin, sahabatku kembali menelephone panjang lebar, sambil menangis tak henti. Dia sedang mengalami masalah dengan suami nya. Memang hidup pernikahannya tidak mudah. Dia mengalami penyiksaan secara verbal maupun penyiksaan secara fisik. Aku yang hanya mendengarkan saja, sudah bergidik dan lemas. Bagaimana dia yang benar-benar mengalami nya? Ternyata, setelah menikah, setiap pasangan juga akan menemukan masalah demi masalah yang terkadang di luar pikiranku. Makan bisa jadi masalah. Belum lagi dengan keuangan, keluarga besar, tabiat bangun tidur dan tidur, pemilihan bahasa, dan lain lain. Oh Tuhaaaaan, aku benar-benar takut.
Yaaaah, ini yang kualami dalam seminggu ini. Hatiku ciut. Semangatku padam, jiwaku lelah, ragaku pun lemas. Aku takut.. Ya aku benar-benar takut akan segala hal yang tak kupahami. Aku tidak mengerti, apa yang Tuhan inginkan dalam hidupku. Jalan mana yang harus kutempuh. Pindah kantor, atau tetap disini? Berhenti menyayanginya, atau justru bersabar dan membuktikan kalau aku serius dengan janjiku? Aku tidak mampu mendengar apa perkataan Nya.

Altar, my hidding place

Lalu malam ini, di tengah-tengah latihan, aku melepaskan alas kaki ku, setelah berjalan menuju Altar Nya.

Aku menyentuh altar Nya dengan ujung jariku, dalam hati aku berteriak : tolong aku Tuhaaaaaaaaann. Lalu diam sejenak. Aku benar-benar pengeeeen nangiiiis, tapi kutahan dengan

amat. Karena ketika aku menyentuh Altar Nya, aku benar-benar bisa merasakan, kalau Tuhanku mendengar teriak ku, kalau Tuhanku mengerti kebingungan ku, kalau Tuhanku ternyata tidak meninggalkanku. He is here.. with me :”)


“Tak kan KAU biarkan, aku melangkah hanya sendirian, KAU selalu ada bagiku, s’bab KAU Bapa ku, Bapa yang Kekal”

I’m Healed =)

Hari ini, aku sungguh amat bersyukur, krn aku sudah 100% SEMBUH =)
Bersyukur atas kemurahan, belas kasihan dan kemuliaan yg Tuhan tunjukkan padaku di akhir January 2003. Setelah 9 tahun, akhirnya pagi tadi dr. Tumpal Siagian menyatakan kalau aku sembuh. Begitu pula dgn dr. Ayub Patinama, si dokter cerdaaaaaz bin juteeeeek yg menangani ku selama 9thn ini. Kali tadi, dia tersenyum.. dan berkata “udah baiiik”.
Terima kasih Tuhan Yesus, oleh bilur-bilur MU, aku sembuh. Terima kasih jg atas segala kebaikan dan keajaiban yang telah kuterima. Kupersembahkan hidupku, untuk kemuliaan MU, sebagai ungkapan syukurku. Bapa, kumohon Tuhan jg membimbing aku, untuk menceritakannya kepada calon suami ku kelak, akan kebaikan Tuhan, yg terjadi di dalam hidupku.

Trima kasih TUHAN, I am healed by YOU =)
@missgalz

Menyesal

#galau itu penyakit menular. Menurut penelitian orang iseng, yg td siang di publikasikan di salah satu radio, katanya #galau itu menular lebih cepat dari virus influensa… Hahaha. Coba deh masuk ke twitter, trus search #galau… Pastiiii dlm hitungan detik pun, layar akan buru2 minta di scroll down :p So, dari pada nularin ke sejagad timeline *haiyaaah apa sih? Followers nya jg blm sampe 130 (-_-!) * mending aku nge blog. Toh hanya orang2 yang berniat (galau) saja yang akan mampir kesini :D Cukup yah prakatanya nya, mari kita mulai :)

Tulisan ini buat kamu ( lagi, dan lagi… Dan lagiiii *hadeeewh* )

Beberapa hari yg lalu, aku nge tweet , kira2 bunyi nya seperti ini : “karena tidak dibutuhkan, maka saiyah pergi”. Hmm… Lagi-lagi tweet an emosi yang aku buat. Ya.. Emosi, marah, deg2 dan sekaligus jg khawatir ( tolong dicatet yah kata yg paling belakang tadi ). Emosi dan marah, karena kamu bener2 ga peduli kalo aku menghilang secara sengaja jumat kemarin nya. Ditanyain jg engga :( Tp aku seneng, karena setidaknya, hari minggunya kamu inisiatif memulai percakapan, walau berakhir dengan kaku jg yah).

Ga ada berita apa2, tiba-tiba Senin kamu dah tugas ajah gitu. Entah iblis apa yg menguasai lalu lintas, belakangan ini sering terjadi kecelakaan di sana sini. Kamu tau ga sih, kalau saiyah itu khawatir bener2 sama sampean ( mulai ga sopan nih bahasa nya :p ). Trus aku nge tweet deh, ya kayak gitu tadiii… Aku tau kamu pasti baca… Ya iyalaaah… Kamu nya cuma follow segelintir orang aja. Kemungkinan besar kamu kebaca. Itu karena… Hmmm… Ya aku marah, khawatir, emozziii negatif laaah intinya… Tp kemudian aku nyesel… Nyesaaaal se jadi-jadinya. Bentuk penyesalan nya sih, aku kirim lewat what’sapp.. Sekedar nanya kemana kamu kemarin, dll. Tp kamu ga respon apapun.

Ngga sampe disitu, aku coba kirim pesan lagi, di YM, trus what’sapp lagi, karena sejujurnya emang ada yang mau aku tanyain sih.. Still, kamu nya ga bales. Aku tau kamu baca. Yaah.. Thanks to technology yaah :D   Pagi2 nya, di home FB ku.. Udah muncul notif kamu di bandara lagi. Hadeeewh…

Tau ga sih… Kalo aku tuh bener2 khawatir setiap kali kamu terbang. Pengennya sih, setiap kali kamu (atau mungkin nanti giliranku) pergi, kita tdk dlm keadaan ga enakan kayak gini. So, aku benar2 menyesal. Terlebih aku sungguh menyesal memosting tweet ga penting td itu. I’m so sorry. Ngga tau kenapa, sejujurnya, aku tuh justru benar-benar sayaaaaaang bgt sama kamu. Dan sungguh sakiiit rasa nya ketika kamu marah, dan kamu bilang, kamu tidak butuh, ber kali-kali.
Kalau kamu benar sungguh2 tidak butuh aku, tolong izinkan aku pergi pelan-pelan yah… Ketika hati ku benar2 siap untuk pergi. Kalo buat sekarang ini? hadeeewh… Mana aku bisa siih.

Tapi kalau sebenernya perkataan mu itu tdk sungguh2, kamu hanya memintaku untuk tinggal. Then.. I promise you, I’ll stay forever.

Heran yah, kamu tuh super galak dan judes, dah gitu jelek lagi! ( ini kamu loh yang ngomong, bukan aku loh yaaah :P Kalo kataku, kamu ga jelek, yah.. ga cakep2 amet juga.. Hahaha )  Tp kok aku bisa yah menabahkan diri terhadap kamu, dan entah kenapa.. semakin hari , saiyah justru tambah sayaaaang sama situuuh. It’s not lips service, honey. I do love you, that much. Kamu pake pelet apa sih cuy? Canggih bgt loh.. Salam yah sama yg masangin pelet nya *jitaaaak* :D

Lah iki piye toh, ini tulisannya jadinya kok kayak aku ngimel ke kamu? Apa ku copy aja yah, trus ku send ke kamu? Hehe… Enggalah. Aku ga berani. Semoga one day, kamu bisa baca tulisan2 ku tentang kamu. Dan semoga, semuanya belum terlambat.

Regards,
The one who’s willing to love you every day, for the rest of her life.

@missgalz

The one(s) I wasn’t Able to Say

Yannes Rudolf

Kelly Clarkson’s

 

Did you remember… Once I said.. when I can’t say my words, then… I’ll write them down. You just need to open my magic box, where there are so many hidden words that cannot going through my throat.

Hmmmm… so above is one of them… One(s)  that I wasn’t able to say to you.. If one day you read this… yes… for sure, this is for you..

PS : have I told you, how much I do love you?? Can you feel it :)

*hugs*

Sandaran

Setiap orang, tak peduli sebetapa hebat dan kuatnya, pada akhirnya tetap akan membutuhkan tempat khusus untuk menyandarkan kepala nya.

Berulang kali aku membuktikan penggalan kata bijak di atas. Seperti hal nya juga yang terjadi (lagi) hari ini. Setelah beberapa saat lamanya pergi menjauh, entah karena apa, namun toh ketika dia butuh pegangan, dipastikan dia akan kembali merapat padaku.

Menggalau setidaknya sejak dua bulan terakhir menjelang eksekusi pengambilan keputusannya, dia kembali ke pelataran hidupku. Dimulai dari telepon an, kemudian dilanjutkan dengan media messenger, atau sekedar bertemu dan bercerita secara langsung. Aku yang sudah hafal betul gerak gerik nya, pasti segera menangkap signal kegamangan hatinya.

Sore ini, hanya kurang dari dua jam, sebelum mundurnya dirinya secara resmi dari kantor yang menaunginya selama tiga belas tahun, dia mengajakku untuk berbicara empat mata. Dia mencari tempat yang sepi. Untunglah kantin saat itu benar2 sedang sepi. Kami duduk berhadapan. Diamnya.. serta sebuah tarikan nafas panjang, sudah cukup bagiku untuk membaca hatinya.  Aku memilih diam, mendengarkan segala keluh kesahnya. Sampai akhirnya, tibalah pada satu pertanyaan pamungkas, yang kutahu pasti, akan diucapkan juga olehnya : trus gw harus gimana? (dengan nada khas nya yg menggantung).
Senyum… Kuberikan satu jawaban singkat. Dia mengangguk, dan kemudian tersenyum lega. Tak lama, kami sudah kembali ke meja masing-masing.

Kutahu yang dibutuhkannya bukanlah sebuah jawaban. Toh selama ini dia selalu sudah memiliki jawaban atas segala pertanyaannya. Dia hanya butuh peneguhan dan pastinya dukungan.

Teringat akan beberapa waktu yang lalu, dia pernah berkata, bahwa akulah tempat sampah nya. Tempat dimana dia selalu bisa membuang segala hal yang mungkin terlalu tabu untuk di dengarkan orang lain. Tapi kemudian dia sadar, bahwa tempat sampah itu juga, adalah satu-satunya tempat bersandar ketika jiwanya letih. Hmm… Ego ku mulai menggelitik, mulai berkata-kata kepada si pikiran untuk kembali ke jalur manusia pada umumnya. Namun disaat yang sama, hati mulai berbicara, bahwa setiap orang berhak memilih jalur kehidupannya masing-masing.

Dahulu, mungkin aku kesal dan marah jika diperlakukan seperti itu. Dia datang ketika butuh sandaran, lalu pergi berkelana ketika jiwanya sudah bugar.  Namun kini, aku tersenyum. Bukankah aku telah memiliki satu perhentian khusus di dalam jiwanya untuk mengisi lubang kosong yang ada disana? Dan malam ini, aku jugalah yang menjadi orang terakhir yang mengantarkannya keluar dari gedung ini, tidak sebagai karyawan lagi :)

Silakan mampir dan silakan bersandar, kapanpun kamu mau. Hanya saja, berjanjilah akan satu hal. Berjanjilah untuk tidak pernah jatuh cinta padaku! Coz it belongs to someone (else), out there :)

Si Ragil , Si Tukang Kayu dan Sebuah Pilihan

Kata orang sih… Everyone has a happy ending story. If it is not happy, then it is not the end yet :)

Aku mau bercerita ttg sebuah persahabatan yg terjalin sekitar… Hmmmm… Aku lupa tepat nya… Mungkin sekitar 6-7 tahun yang lalu. Hehehe… Lama yah? Sebut saja namanya… Hmmm… Ragil… Krn dia memang anak bungsu. Ragil berasal dr keluarga sederhana, yang didik dengan cara luar biasa, sehingga seluruh anak-anak dari keluarga itu, benar-benar menjadi “orang” * laaaah… Sedari lahir emang bukan nya dah jadi manusia yah* Dilahirkan paling akhir, menjadikan Ragil amat sangat dilindungi oleh kakak dan abang-abang nya. Yah tipical anak bungsu pada umumnya yah #eeh :p  Kondisi ini sungguh amat sangat berbeda denganku, yang dilahirkan sebagai anak sulung. Si sulung, pastinya punya tanggung jawab lebih atas dirinya sendiri, dan juga atas adik (adik) nya. Belum lagi sifat egois dan kompetitifku :D lengkaplah sudah! Ya mungkin ini salah satu alasan, knp pada akhirnya kami bs bersahabat. Masing2 bs melihat sisi lain dr kehidupan, dr “makhluk aneh” yg menjadi lawan bicara nya. Aku salut dengan kesabarannya menghadapi sekelilingnya. Hmm… Sungguh, aku pernah menganggap yg dilakukan nya sebagai suatu kebodohan. Hehe. Dan Ragil pun tdk kalah protes nya terhadap semua kegiatan yang kulakukan. Menurutnya, itu konyol… Seolah usaha menjaring angin. Ya sutralah… Namanya juga sudah beda dari awal.
Persahabatan kami sungguh dibantu oleh gadget yang semakin lama semakin canggih. Jarak dan perbedaan waktu jadi bukan kendala yang berarti. Faktor signal?? Iyah bgt. Ya begitulah, dia cerita banyak hal mengenai dirinya, dan akupun demikian. Untuk hitungan orang yang teramat sangat sulit terbuka kepada orang lain (dimasa itu) , maka dapat kukatakan, aku amat terbuka kepadanya. Hampir seluruh kehidupanku, dy tahu. Hmmm… Kecuali untuk satu halaman dr keseluruhan buku cerita kehidupanku. Kalo itu sih… Memang aku keep hanya dengan orang2 yang jauh lebih kompeten dan lebih kupercaya. *sorry*

Kisah mengenai si Ksatria Bergitarku, dan juga mengenai si Rajutan Satu Juni, mungkin hanyalah sebagian cerita yang kubagi dengan nya. Terutama mengenai rasa sayang ku kepada Ksatria Bergitar, yang pada waktu itu demikian besarnya, daaann.. seringkali diprotes. Sebenarnya ada betulnya juga dia. Dia hanya memintaku untuk lebih rasional. Yaaa…. Kalo lagi jatuh cinta… Sisi rasional kan sering kali menghilang.. Hehe.
Suatu hari si Ragil benar2 marah, dan dia memintaku untuk menghentikan segala hal yg kulakukan, yg jauh dari rasionalisme (nya dia!) kepada si Ksatria Bergitar. Dia benar2 meminta dan memaksaku untuk menutup buku kepadanya, dan kemudian membuka cerita baru dengan orang lain. Hufftt… Enak sajah! Emang nya gampang membuatku beralih dari satu ke yang satu? It takes years. Lalu dia menyodorkan satu nama kepadaku, untuk kucoba. Makanan kaleeee dicoba. Makanan ya mudah, kalo ga suka, bisa distop kapan saja, trus dikasihkan ke orang lain (*hmmm… Ga boleh dibuang yah cuuuuy*). Nah kalau hati? Pasti beda ceritanya. Singkatnya, dia meminta ku ( baca : memaksaku ) untuk melupakan si Ksatria bergitar, dan beralih kepada salah seorang teman baik kami. Hmmm… Sebut saja dia, Si Tukang Kayu. Dan mulailah sebuah cerita baru.
Setiap hari, Ragil berusaha untuk meyakinkanku, kalau aku harus membuka hati buat orang baru, dan orang itu adalah Si Tukang Kayu. Dia meyakinkanku, kalau Si Tukang Kayu ini adalah seseorang yang baik, yang pas buatku. Berbagai penjelasan telah diberikan. Aku hanya diam, tak mau menanggapi. Entah dari mana asalnya, tapi memang, aku dan Si Tukang Kayu semakin sering bertemu. Setidaknya berkomunikasi lewat messenger. Lama kelamaan kami bertambah akrab. Mungkin karena Si Tukang Kayu ini memang benar baik, dia juga menyenangkan. Oh iya, satu lagi.. Dia cerdaaaz! Aku suka mengobrol dengan nya. Amat rasional dan detail. Yaaaak… Bertolak belakang denganku.
Si Ragil semakin sering berkunjung ke Jakarta, bersamaan dengan semakin akrabnya aku dan Si Tukang Kayu. Faktor utama nya, mungkin karena kami sama-sama tdk ada kesibukan saat itu, dan sedang benar2 bosan dengan kondisi setempat. Jadilah kami semakin sering kabur di jam kantor. Sekedar menyeruput teh dan menyantap roti. Kepindahan Ragil ke Jakarta, semakin menyempurnakan persahabatan yang ada. Pulang kantor, adalah masa yang paling dinanti, karena kami bisa makan2 sepuasnya. Hmmm… Sungguh aku sangat menikmati masa2 itu.
Setiap dalam perjalanan pulang, karena pada akhirnya kami mengantarkan Si Tukang Kayu terlebih dulu, Ragil yang tinggal nya “searah” dengan ku, pastilah punya banyak kesempatan untuk menginterogasi. Dia mulai melakukan promosi tentang si Tukang Kayu. Aku hanya mendengar dan sesekali menimpali dengan gurauan. Sampai akhirnya Si Ragil marah. Benar2 marah karena aku tdk mau menanggapi dengan serius. Kali itu aku diam, dan menanyakan apa sesungguhnya yang dia inginkan. Ragil menginginkan ku untuk membuka hati buat si Tukang Kayu, dan belajar menyayanginya. Aku diam, tak berkata-kata. Dalam hati, aku mempertimbangkan banyak hal. Ya Si Tukang Kayu memang sosok yang baik dan menyenangkan. Kalau aku mau sungguh2… Tak sulit bagiku untuk menyayanginya. Tapi apakah mungkin dia bisa menerima diriku juga? Apa iya kami memiliki tujuan dan perasaan yang sama nantinya? Bagaimana jika nanti hanya aku yang terlanjur sayang padanya, tetapi dia tetap dingin? Bukankah ini dapat merusak persahabatan yang ada? Hmmm… Aku jg bukan orang yang mudah jatuh cinta. Tapiiii ketika aku sudah sayang pada seseorang, rasa sayangku akanlah teramat dalam. Dan setiap dari hal tersebut di atas, Si Ragil tahu pasti keadaanku. Semakin hari, semakin semangat dan semakin frontal lah Ragil mendorongku. Sampai suatu ketika, aku benar2 tdk kuat. Akhirnya ku katakan jg semua ke khawatiran ku. Ini tidak fair! Ragil mendorongku untuk mencintai Si Tukang Kayu, namun dia sama sekali tdk melakukan hal yang sama kepada Si Tukang Kayu. Pantaskah aku, bila aku merasa ini tidak adil? Pantaskah aku, untuk merasa amat sangat takut, kalau rasa ini akan jatuh di tempat yang salah, dan kemungkinan sangat besar untuk merusak persahabatan indah yang sudah ada. Sia – sia semua protesku. Ragil tdk mau mendengar, dia tetap berisi keras. Aku tak menjanjikan apa2 kepada Ragil. Tetapi aku berjanji untuk belajar mengasihi Si Tukang Kayu ini.
Dalam perjalanan kami, ternyata menyayangi Si Tukang Kayu ini, tidak semudah yang kubayangkan. Tak jarang, hatiku justru terluka oleh ucapan-ucapan sembrono nya. Tapi aku bertahan. Toh dia teman baik ku dan aku menyayanginya. Lagipula, bukankah aku jg bukan orang yang sempurna? Aku belajar untuk mengasihinya, aku belajar untuk mengerti keinginannya. Dan aku juga belajar untuk mendengar segala hal yang tak terkatakan, yang tersembunyi dibalik setiap kata-katanya.
Suatu saat, ketika aku dah Si Tukang Kayu semakin dekat, Ragil bertanya, apakah aku mulai menaruh hati pada Si Tukang Kayu. Aku jawab dengan tidak. Ragil tidak percaya, menurutnya aku berbohong. Ya bagaimana aku bisa menyayanginya kalau akupun masih merantai hatiku agar tidak jatuh ke tempat yang salah? Setiap ada kesempatan, terutama setiap kami habis makan malam ber tiga, Ragil selalu menanyakan hal yang sama, setiap saat. Jawaban ku tetap sama : Tidak!
Entah kapan pastinya, aku tdk ingat. Aku mulai merasa, ada yang hilang jika aku tidak bertemu dengan Si Tukang Kayu. Ada perasaan senang, ketika kami bercengkrama. Kemudian aku sadar, kalau aku tidak menyiapkan hadiah apapun untuk “Si Ksatria Bergitar” di hari jadinya. Sungguh amat kontras dengan kejadian tahun sebelumnya. Hal ini kuceritakan kepada si Ragil. Dengan setengah tertawa, dia semakin meyakini, kalau aku sudah jatuh cinta kepada si Tukang Kayu. Entah berapa kali dia sudah berusaha membuatku mengakui kalau aku sudah memiliki rasa sayang kepada Si Tukang Kayu. Aku selalu menjawab tidak. Sampai suatu hari, aku mulai merasakan, kalau hmmm… Kemungkinan besar, memang aku telah memiliki rasa sayang kepada Si Tukang Kayu, lebih dari “hanya sekedar teman pria ku”.
Saat si Ragil bertanya lagi dikesempatan yg lain, aku hanya menjawab kalau aku sangat nyaman dan senang, kalau berada di dekat Si Tukang Kayu. Si Ragil tertawa kencang. Seolah – olah dia sudah memenangkan sebuah pertandingan. Ia memintaku untuk mengaku.
Sampai suatu malam, akhirnya aku mengatakan, bahwa ya, aku mengasihi Si Tukang Kayu. Ragil tertawa keras, dan tambah menjadi – jadi. Di tengah tawanya, dia menyisipkan sebuah kalimat yang mengusik batinku. Dia tidak mau disalahkan kalau akhirnya aku jatuh cinta pada Si Tukang Kayu. Dalam hatiku, ada sedikit ketakutan. Mengapa dia berkata seperti itu? Mengapa setelah semua dorongan2 nya, kemudian ketika aku mulai terjatuh, dia malah cuci tangan? Aku diam. Kusimpan semua nya sendiri.
Sejak pengakuanku malam itu, sikap Ragil berubah. Dia jauh lebih blak blakan, jauh lebih kasar. Dan terus menerus meyakinkanku, kalau dia tidak pernah memaksa ku. Selang dua minggu dari pengakuanku malam itu, Ragil justru melakukan suatu hal yang di luar dugaan ku. Dia berkata, kalau aku tidak perlu berharap terlalu banyak dari Si Tukang Kayu, kalau aku sebaiknya mulai mengikis rasa sayangku. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang dia katakan. Lalu, dia menawarkan aku untuk “berpaling” dan membuka hati, kepada seseorang yang kutahu sudah sejak lama manaruh hati padaku. Dan orang ini, juga merupakan teman baik dari Si Tukang Kayu. Akupun sebenarnya sudah mengetahui perasaannya kepadaku sebelumnya, tetapi tak setitikpun aku berpikir untuk merubah hatiku. Seketika itupun aku lemas sejadi -jadinya. Bagaimana mungkin, dia yang mendorongku, tetapi kini dia juga yang menarikku ke belakang kembali? Bagaimana mungkin aku bisa memindahkan rasa sayang yang sudah mulai timbul ini kepada orang yang berbeda, dalam hentikan jari? Dia pikir apalah aku ini? Aku lemas tak dapat berkata-kata, kulanjutkan untuk mengendarai Si Merah. Untunglah, salah seorang sahabatku, yang mengenalku sejak remaja, hadir saat itu. Dialah yang kemudian menjadi berang atas perkataan si Ragil barusan dan mengalirkan amarahku kepada Si Ragil.
Suasana menjadi dingin setelahnya. Terbawa pula ketika Si Tukang Kayu hadir di tengah-tengah kami. Hmmm… Benar2 tak dapat ku gambarkan bagaimana rasanya. Yang jelas hubunganku dengan si Ragil, perlahan namun pasti, mulai retak. Aku kecewa… Ya teramat kecewa. Bukankah dia sudah amat sangat mengenal diriku? Kenapa Ragil begitu teganya, mengesampingkan hatiku. Dengan mudahnya dia memberi komando sebuah manuver? It’s so NOT me. Aku sedih, teramat sedih. Perselisihan demi perselisihan pun terjadi diantara kami. Kedaan semakin tak menentu dengan kebingungan Si Tukang Kayu yang tidak pernah tau cerita seluruhnya. Hal ini diperparah dengan kesalahan2 yang tak pernah ku sengaja kepada si Tukang Kayu. Aku belajar mengerti dirinya. Namun mungkin, aku lamban untuk belajar. Sedikit demi sedikit, Si Tukang Kayu mulai kecewa padaku.
Suatu malam, pecahlah pertengkaran tdk terlalu penting antara aku dan Si Ragil, dihadapan si Tukang Kayu. Namun ku tahu sesungguhnya, bukan itu inti permasalahannya. Hanya saja, semua kesedihan dan kekecewaan yang ada, pecah dan tertumpah pada tempat, kondisi dan cerita yang salah.
Aku tak bisa ber pura2, rasanya hati ini sakiiiit sekali. Namun tak mungkin juga kujelaskan kepada Si Tukang Kayu. Disisi lain, si Tukang Kayu juga tak kalah herannya melihat sikap kami, yang sekilas memang seperti anak kecil.
Hmm.. Aku bingung, bagaimana cara memperbaiki keadaan ini. Aku mencoba memperbaiki hubunganku dengan si Tukang Kayu, karena sesungguhnya, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Si Tukang Kayu pun, dalam kebingungannya, lambat laun mulai menjauh dari ku. Ketika aku memberianikan diri, untuk mencoba menjelaskan kepadanya, dia tak mau memberikan ku satu kesempatan pun. Hmm.. Mungkin dia juga jenuh dan marah dengan sikap ku. Sikapku yang sering kali mengusik dirinya. Atau mungkin, memang aku benar2 menyebalkan. Kucoba mendekat, semua nya sia-sia. Si Tukang Kayu terlanjur marah. Begitu banyak hardikan dan amarah yang terkadang tak ku mengerti, tertumpah kepadaku.
Kini aku hanya bisa melihat mereka dari jauh. Sedikit sakit rasanya ketika aku mengingat masa satu tahun yang lalu. Tapi… Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, ketika Si Tukang Kayu memilih persahabatannya bersama Si Ragil. Seandainya mungkin, kiranya izinkanlah aku menjelaskan dari sisiku. Bahkan ketika aku meminta, dengan sedikit memohonpun, Si Tukang Kayu tak memberikanku kesempatan.
Ragil, boleh kah aku mengatakan, kalo aku benar2 sediiiih dan kecewa. Kalau bukan kamu yang melakukan hal ini, mungkin aku tdk akan merasa sesakit ini. Namun karena ini kamu, orang yang teramat kupercaya, orang yang namanya tercantum, dalam list khusus ku. Bagaimana aku dapat mengatasinya?
Sendiri… aku kehilangan dua hal.. Sebuah persahabatan dgn Si Ragil… Dan sebuah rasa sayang yang terlanjur hadir di dalam hati ku kepada Si Tukang Kayu.

 

 

Setahun lalu, Si Tukang Kayu menggambar jangkar di tangan kanan ku. Setelah itu, dia langsung melepas tanganku, sampai jatuh ke bawah saat si Ragil berulang kali mengambil foto kami. Yaaa.. Kira2 seperti itulah rasanya…

Happy Valentine’s day, anyway :’)

Di Sana, di Bawah Altar Nya

Hey…  it’s already February… Hmmm.. ga berasa yah.. waktu berjalan sangat cepat… seperti lari sprint.. tau-tau nanti sudah akhir tahun saja. Cuaca lagi melow-melow nya, membuat yang melow jadi tambah melow *sekalian curcooool* :P

Rasanya, aku mulai tidak kuat untuk menjalani emosi yang bak roller coaster seperti ini. Sungguh amat sangat melelahkan. Mana belum menentu lagi, akan berakhir kemana. Benar-benar mengalami pengacuhan yang luar biasa ( ini apa sih bahasanya.. pengacuhan… hehe… ) Tapi ya bener juga sih.

Masih perlu dipertanyakan yah apakah aku mengasihinya atau tidak? Kalau aku bisa mengontrol lidahku untuk berdiam diri terhadap semua hardikannya, kalau aku bisa terus menerus menyapanya terlebih dahulu walaupun aku tahu akan kemungkinan besar hatiku akan tergores-gores oleh pemilihan kata-katanya, kalau aku mau merendahkan hatiku serendah-rendahnya, membuka hatiku selebar – lebarnya terhadap dia.. masih bolehkah aku berkata aku tidak menyayanginya? *Tidak perlu dijawab barangkali.*

Teringat akan masa satu tahun lalu, teringat akan segala hal manis yang biasa kami lakukan, hmmm…. Ya Tuhan, time goes fly so fast. So, malam tadi, aku mampir ke Rumah Bapa ku. Mengambil secarik kertas super kecil, kemudian menuliskan nama nya disana. Lalu kulipat kecil.. sangat kecil. Di tengah-tengah rekan-rekan yang sedang latihan, di antara kegiatan sermon di pojok sana yang sedang berlangsung, aku duduk diam, di kaki altar. Sekedar mengobrol dengan Bapa ku :

Bapa, aku lelah dengan semua ini. Pun aku tak tahu, ke arah mana ini akan berakhir. Engkau pasti tahu apa yang kurasakan. Maka aku menaruh sebuah nama disini, di altar Mu. Jika Engkau menginginkan ku untuk mendampinginya seumur hidupku, maka biarlah Bapa membukakan jalan untuk kami berdua. Kuatkan lah hatiku dan sabarkanlah hatinya. Tetapi jika ini hanya inginku, dan bukan ingin Mu, maka kuserahkan dia kepada Mu. Mungkin bukan aku yang mampu untuk mengasihinya seperti kasih Mu. Dan kumohon, siapkanlah aku, untuk mendampingi orang yang telah Kau pilih, yang sudah Kau janjikan kepadaku. Juga untuknya, berikanlah dia wanita sempurna yang dapat (dengan lebih dalam  lagi) menyayanginya.

Lalu, masih dengan diam, kuletakkanlah kertas kecil itu, kertas dengan inisial nama mu, sayang… di sana.. di bawah altar Nya :’)

Happy 9th, second birth day to me :)

My first post in 2012, I would like to dedicate it as my benediction, to Thee… My Saviour, My Master, The Owner of mine, The One who gave me a second chance to live.

Started early in the morning, I already made a promise… No matter what will happen.. There will be no sadness for today. I will rejoice and be glad in HIM.
Today is such a special day for me. Today, nine years-ago, God give me a second chance to live. It was such an amazing time, between me and my Lord. Such a … Hmmm.. I don’t know what to say. *speechless*

Well, I (suppose to be ) have nothing to worry about. Including by the time I realize that you ignore me that much. Specially this afternoon. It hurts.. But I don’t have a heart to hate you.. Not even occurred in my mind.
Then, I went home (very) early, taking a chance to ride my new bicycle. Yipiiiieee…

Once, wise man said :

The journey of life is like a man riding a bicycle. We know he got on the bicycle and started to move. We know that at some point he will stop and get off. We know that if he stops moving and does not get off he will fall off.

~ William G. Golding English Novelist and Poet. Nobel Prize in Literature, 1983

I think he is right. All I have to do is to keep moving, eventhough maybe I will fall on my journeys. Just keep moving.  Btw.. I did falls (literally), two times this afternoon. hahaha.. LoL!

So.. I give thanks to Thee… For my second time. Also for my great parents, my one and only lil’ brother, my dearest friends, for you :) Aaaaannd.. I will shout :  Happy 9th second birth day to me ! ;)

imagePS : Above is also another opportunities for me, to visit a kind of Thou arts, in Tidung Island – Indonesia. Such a great ones, isn’t it? :)

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 115 other followers