Sandaran
16 Feb 2012 Leave a Comment
in My Cubbicle
Setiap orang, tak peduli sebetapa hebat dan kuatnya, pada akhirnya tetap akan membutuhkan tempat khusus untuk menyandarkan kepala nya.
Berulang kali aku membuktikan penggalan kata bijak di atas. Seperti hal nya juga yang terjadi (lagi) hari ini. Setelah beberapa saat lamanya pergi menjauh, entah karena apa, namun toh ketika dia butuh pegangan, dipastikan dia akan kembali merapat padaku.
Menggalau setidaknya sejak dua bulan terakhir menjelang eksekusi pengambilan keputusannya, dia kembali ke pelataran hidupku. Dimulai dari telepon an, kemudian dilanjutkan dengan media messenger, atau sekedar bertemu dan bercerita secara langsung. Aku yang sudah hafal betul gerak gerik nya, pasti segera menangkap signal kegamangan hatinya.
Sore ini, hanya kurang dari dua jam, sebelum mundurnya dirinya secara resmi dari kantor yang menaunginya selama tiga belas tahun, dia mengajakku untuk berbicara empat mata. Dia mencari tempat yang sepi. Untunglah kantin saat itu benar2 sedang sepi. Kami duduk berhadapan. Diamnya.. serta sebuah tarikan nafas panjang, sudah cukup bagiku untuk membaca hatinya. Aku memilih diam, mendengarkan segala keluh kesahnya. Sampai akhirnya, tibalah pada satu pertanyaan pamungkas, yang kutahu pasti, akan diucapkan juga olehnya : trus gw harus gimana? (dengan nada khas nya yg menggantung).
Senyum… Kuberikan satu jawaban singkat. Dia mengangguk, dan kemudian tersenyum lega. Tak lama, kami sudah kembali ke meja masing-masing.Kutahu yang dibutuhkannya bukanlah sebuah jawaban. Toh selama ini dia selalu sudah memiliki jawaban atas segala pertanyaannya. Dia hanya butuh peneguhan dan pastinya dukungan.
Teringat akan beberapa waktu yang lalu, dia pernah berkata, bahwa akulah tempat sampah nya. Tempat dimana dia selalu bisa membuang segala hal yang mungkin terlalu tabu untuk di dengarkan orang lain. Tapi kemudian dia sadar, bahwa tempat sampah itu juga, adalah satu-satunya tempat bersandar ketika jiwanya letih. Hmm… Ego ku mulai menggelitik, mulai berkata-kata kepada si pikiran untuk kembali ke jalur manusia pada umumnya. Namun disaat yang sama, hati mulai berbicara, bahwa setiap orang berhak memilih jalur kehidupannya masing-masing.
Dahulu, mungkin aku kesal dan marah jika diperlakukan seperti itu. Dia datang ketika butuh sandaran, lalu pergi berkelana ketika jiwanya sudah bugar. Namun kini, aku tersenyum. Bukankah aku telah memiliki satu perhentian khusus di dalam jiwanya untuk mengisi lubang kosong yang ada disana? Dan malam ini, aku jugalah yang menjadi orang terakhir yang mengantarkannya keluar dari gedung ini, tidak sebagai karyawan lagi
![]()
Silakan mampir dan silakan bersandar, kapanpun kamu mau. Hanya saja, berjanjilah akan satu hal. Berjanjilah untuk tidak pernah jatuh cinta padaku! Coz it belongs to someone (else), out there
![]()

Recent Comments