Si Ragil , Si Tukang Kayu dan Sebuah Pilihan


Kata orang sih… Everyone has a happy ending story. If it is not happy, then it is not the end yet :)

Aku mau bercerita ttg sebuah persahabatan yg terjalin sekitar… Hmmmm… Aku lupa tepat nya… Mungkin sekitar 6-7 tahun yang lalu. Hehehe… Lama yah? Sebut saja namanya… Hmmm… Ragil… Krn dia memang anak bungsu. Ragil berasal dr keluarga sederhana, yang didik dengan cara luar biasa, sehingga seluruh anak-anak dari keluarga itu, benar-benar menjadi “orang” * laaaah… Sedari lahir emang bukan nya dah jadi manusia yah* Dilahirkan paling akhir, menjadikan Ragil amat sangat dilindungi oleh kakak dan abang-abang nya. Yah tipical anak bungsu pada umumnya yah #eeh :p  Kondisi ini sungguh amat sangat berbeda denganku, yang dilahirkan sebagai anak sulung. Si sulung, pastinya punya tanggung jawab lebih atas dirinya sendiri, dan juga atas adik (adik) nya. Belum lagi sifat egois dan kompetitifku :D lengkaplah sudah! Ya mungkin ini salah satu alasan, knp pada akhirnya kami bs bersahabat. Masing2 bs melihat sisi lain dr kehidupan, dr “makhluk aneh” yg menjadi lawan bicara nya. Aku salut dengan kesabarannya menghadapi sekelilingnya. Hmm… Sungguh, aku pernah menganggap yg dilakukan nya sebagai suatu kebodohan. Hehe. Dan Ragil pun tdk kalah protes nya terhadap semua kegiatan yang kulakukan. Menurutnya, itu konyol… Seolah usaha menjaring angin. Ya sutralah… Namanya juga sudah beda dari awal.
Persahabatan kami sungguh dibantu oleh gadget yang semakin lama semakin canggih. Jarak dan perbedaan waktu jadi bukan kendala yang berarti. Faktor signal?? Iyah bgt. Ya begitulah, dia cerita banyak hal mengenai dirinya, dan akupun demikian. Untuk hitungan orang yang teramat sangat sulit terbuka kepada orang lain (dimasa itu) , maka dapat kukatakan, aku amat terbuka kepadanya. Hampir seluruh kehidupanku, dy tahu. Hmmm… Kecuali untuk satu halaman dr keseluruhan buku cerita kehidupanku. Kalo itu sih… Memang aku keep hanya dengan orang2 yang jauh lebih kompeten dan lebih kupercaya. *sorry*

Kisah mengenai si Ksatria Bergitarku, dan juga mengenai si Rajutan Satu Juni, mungkin hanyalah sebagian cerita yang kubagi dengan nya. Terutama mengenai rasa sayang ku kepada Ksatria Bergitar, yang pada waktu itu demikian besarnya, daaann.. seringkali diprotes. Sebenarnya ada betulnya juga dia. Dia hanya memintaku untuk lebih rasional. Yaaa…. Kalo lagi jatuh cinta… Sisi rasional kan sering kali menghilang.. Hehe.
Suatu hari si Ragil benar2 marah, dan dia memintaku untuk menghentikan segala hal yg kulakukan, yg jauh dari rasionalisme (nya dia!) kepada si Ksatria Bergitar. Dia benar2 meminta dan memaksaku untuk menutup buku kepadanya, dan kemudian membuka cerita baru dengan orang lain. Hufftt… Enak sajah! Emang nya gampang membuatku beralih dari satu ke yang satu? It takes years. Lalu dia menyodorkan satu nama kepadaku, untuk kucoba. Makanan kaleeee dicoba. Makanan ya mudah, kalo ga suka, bisa distop kapan saja, trus dikasihkan ke orang lain (*hmmm… Ga boleh dibuang yah cuuuuy*). Nah kalau hati? Pasti beda ceritanya. Singkatnya, dia meminta ku ( baca : memaksaku ) untuk melupakan si Ksatria bergitar, dan beralih kepada salah seorang teman baik kami. Hmmm… Sebut saja dia, Si Tukang Kayu. Dan mulailah sebuah cerita baru.
Setiap hari, Ragil berusaha untuk meyakinkanku, kalau aku harus membuka hati buat orang baru, dan orang itu adalah Si Tukang Kayu. Dia meyakinkanku, kalau Si Tukang Kayu ini adalah seseorang yang baik, yang pas buatku. Berbagai penjelasan telah diberikan. Aku hanya diam, tak mau menanggapi. Entah dari mana asalnya, tapi memang, aku dan Si Tukang Kayu semakin sering bertemu. Setidaknya berkomunikasi lewat messenger. Lama kelamaan kami bertambah akrab. Mungkin karena Si Tukang Kayu ini memang benar baik, dia juga menyenangkan. Oh iya, satu lagi.. Dia cerdaaaz! Aku suka mengobrol dengan nya. Amat rasional dan detail. Yaaaak… Bertolak belakang denganku.
Si Ragil semakin sering berkunjung ke Jakarta, bersamaan dengan semakin akrabnya aku dan Si Tukang Kayu. Faktor utama nya, mungkin karena kami sama-sama tdk ada kesibukan saat itu, dan sedang benar2 bosan dengan kondisi setempat. Jadilah kami semakin sering kabur di jam kantor. Sekedar menyeruput teh dan menyantap roti. Kepindahan Ragil ke Jakarta, semakin menyempurnakan persahabatan yang ada. Pulang kantor, adalah masa yang paling dinanti, karena kami bisa makan2 sepuasnya. Hmmm… Sungguh aku sangat menikmati masa2 itu.
Setiap dalam perjalanan pulang, karena pada akhirnya kami mengantarkan Si Tukang Kayu terlebih dulu, Ragil yang tinggal nya “searah” dengan ku, pastilah punya banyak kesempatan untuk menginterogasi. Dia mulai melakukan promosi tentang si Tukang Kayu. Aku hanya mendengar dan sesekali menimpali dengan gurauan. Sampai akhirnya Si Ragil marah. Benar2 marah karena aku tdk mau menanggapi dengan serius. Kali itu aku diam, dan menanyakan apa sesungguhnya yang dia inginkan. Ragil menginginkan ku untuk membuka hati buat si Tukang Kayu, dan belajar menyayanginya. Aku diam, tak berkata-kata. Dalam hati, aku mempertimbangkan banyak hal. Ya Si Tukang Kayu memang sosok yang baik dan menyenangkan. Kalau aku mau sungguh2… Tak sulit bagiku untuk menyayanginya. Tapi apakah mungkin dia bisa menerima diriku juga? Apa iya kami memiliki tujuan dan perasaan yang sama nantinya? Bagaimana jika nanti hanya aku yang terlanjur sayang padanya, tetapi dia tetap dingin? Bukankah ini dapat merusak persahabatan yang ada? Hmmm… Aku jg bukan orang yang mudah jatuh cinta. Tapiiii ketika aku sudah sayang pada seseorang, rasa sayangku akanlah teramat dalam. Dan setiap dari hal tersebut di atas, Si Ragil tahu pasti keadaanku. Semakin hari, semakin semangat dan semakin frontal lah Ragil mendorongku. Sampai suatu ketika, aku benar2 tdk kuat. Akhirnya ku katakan jg semua ke khawatiran ku. Ini tidak fair! Ragil mendorongku untuk mencintai Si Tukang Kayu, namun dia sama sekali tdk melakukan hal yang sama kepada Si Tukang Kayu. Pantaskah aku, bila aku merasa ini tidak adil? Pantaskah aku, untuk merasa amat sangat takut, kalau rasa ini akan jatuh di tempat yang salah, dan kemungkinan sangat besar untuk merusak persahabatan indah yang sudah ada. Sia – sia semua protesku. Ragil tdk mau mendengar, dia tetap berisi keras. Aku tak menjanjikan apa2 kepada Ragil. Tetapi aku berjanji untuk belajar mengasihi Si Tukang Kayu ini.
Dalam perjalanan kami, ternyata menyayangi Si Tukang Kayu ini, tidak semudah yang kubayangkan. Tak jarang, hatiku justru terluka oleh ucapan-ucapan sembrono nya. Tapi aku bertahan. Toh dia teman baik ku dan aku menyayanginya. Lagipula, bukankah aku jg bukan orang yang sempurna? Aku belajar untuk mengasihinya, aku belajar untuk mengerti keinginannya. Dan aku juga belajar untuk mendengar segala hal yang tak terkatakan, yang tersembunyi dibalik setiap kata-katanya.
Suatu saat, ketika aku dah Si Tukang Kayu semakin dekat, Ragil bertanya, apakah aku mulai menaruh hati pada Si Tukang Kayu. Aku jawab dengan tidak. Ragil tidak percaya, menurutnya aku berbohong. Ya bagaimana aku bisa menyayanginya kalau akupun masih merantai hatiku agar tidak jatuh ke tempat yang salah? Setiap ada kesempatan, terutama setiap kami habis makan malam ber tiga, Ragil selalu menanyakan hal yang sama, setiap saat. Jawaban ku tetap sama : Tidak!
Entah kapan pastinya, aku tdk ingat. Aku mulai merasa, ada yang hilang jika aku tidak bertemu dengan Si Tukang Kayu. Ada perasaan senang, ketika kami bercengkrama. Kemudian aku sadar, kalau aku tidak menyiapkan hadiah apapun untuk “Si Ksatria Bergitar” di hari jadinya. Sungguh amat kontras dengan kejadian tahun sebelumnya. Hal ini kuceritakan kepada si Ragil. Dengan setengah tertawa, dia semakin meyakini, kalau aku sudah jatuh cinta kepada si Tukang Kayu. Entah berapa kali dia sudah berusaha membuatku mengakui kalau aku sudah memiliki rasa sayang kepada Si Tukang Kayu. Aku selalu menjawab tidak. Sampai suatu hari, aku mulai merasakan, kalau hmmm… Kemungkinan besar, memang aku telah memiliki rasa sayang kepada Si Tukang Kayu, lebih dari “hanya sekedar teman pria ku”.
Saat si Ragil bertanya lagi dikesempatan yg lain, aku hanya menjawab kalau aku sangat nyaman dan senang, kalau berada di dekat Si Tukang Kayu. Si Ragil tertawa kencang. Seolah – olah dia sudah memenangkan sebuah pertandingan. Ia memintaku untuk mengaku.
Sampai suatu malam, akhirnya aku mengatakan, bahwa ya, aku mengasihi Si Tukang Kayu. Ragil tertawa keras, dan tambah menjadi – jadi. Di tengah tawanya, dia menyisipkan sebuah kalimat yang mengusik batinku. Dia tidak mau disalahkan kalau akhirnya aku jatuh cinta pada Si Tukang Kayu. Dalam hatiku, ada sedikit ketakutan. Mengapa dia berkata seperti itu? Mengapa setelah semua dorongan2 nya, kemudian ketika aku mulai terjatuh, dia malah cuci tangan? Aku diam. Kusimpan semua nya sendiri.
Sejak pengakuanku malam itu, sikap Ragil berubah. Dia jauh lebih blak blakan, jauh lebih kasar. Dan terus menerus meyakinkanku, kalau dia tidak pernah memaksa ku. Selang dua minggu dari pengakuanku malam itu, Ragil justru melakukan suatu hal yang di luar dugaan ku. Dia berkata, kalau aku tidak perlu berharap terlalu banyak dari Si Tukang Kayu, kalau aku sebaiknya mulai mengikis rasa sayangku. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang dia katakan. Lalu, dia menawarkan aku untuk “berpaling” dan membuka hati, kepada seseorang yang kutahu sudah sejak lama manaruh hati padaku. Dan orang ini, juga merupakan teman baik dari Si Tukang Kayu. Akupun sebenarnya sudah mengetahui perasaannya kepadaku sebelumnya, tetapi tak setitikpun aku berpikir untuk merubah hatiku. Seketika itupun aku lemas sejadi -jadinya. Bagaimana mungkin, dia yang mendorongku, tetapi kini dia juga yang menarikku ke belakang kembali? Bagaimana mungkin aku bisa memindahkan rasa sayang yang sudah mulai timbul ini kepada orang yang berbeda, dalam hentikan jari? Dia pikir apalah aku ini? Aku lemas tak dapat berkata-kata, kulanjutkan untuk mengendarai Si Merah. Untunglah, salah seorang sahabatku, yang mengenalku sejak remaja, hadir saat itu. Dialah yang kemudian menjadi berang atas perkataan si Ragil barusan dan mengalirkan amarahku kepada Si Ragil.
Suasana menjadi dingin setelahnya. Terbawa pula ketika Si Tukang Kayu hadir di tengah-tengah kami. Hmmm… Benar2 tak dapat ku gambarkan bagaimana rasanya. Yang jelas hubunganku dengan si Ragil, perlahan namun pasti, mulai retak. Aku kecewa… Ya teramat kecewa. Bukankah dia sudah amat sangat mengenal diriku? Kenapa Ragil begitu teganya, mengesampingkan hatiku. Dengan mudahnya dia memberi komando sebuah manuver? It’s so NOT me. Aku sedih, teramat sedih. Perselisihan demi perselisihan pun terjadi diantara kami. Kedaan semakin tak menentu dengan kebingungan Si Tukang Kayu yang tidak pernah tau cerita seluruhnya. Hal ini diperparah dengan kesalahan2 yang tak pernah ku sengaja kepada si Tukang Kayu. Aku belajar mengerti dirinya. Namun mungkin, aku lamban untuk belajar. Sedikit demi sedikit, Si Tukang Kayu mulai kecewa padaku.
Suatu malam, pecahlah pertengkaran tdk terlalu penting antara aku dan Si Ragil, dihadapan si Tukang Kayu. Namun ku tahu sesungguhnya, bukan itu inti permasalahannya. Hanya saja, semua kesedihan dan kekecewaan yang ada, pecah dan tertumpah pada tempat, kondisi dan cerita yang salah.
Aku tak bisa ber pura2, rasanya hati ini sakiiiit sekali. Namun tak mungkin juga kujelaskan kepada Si Tukang Kayu. Disisi lain, si Tukang Kayu juga tak kalah herannya melihat sikap kami, yang sekilas memang seperti anak kecil.
Hmm.. Aku bingung, bagaimana cara memperbaiki keadaan ini. Aku mencoba memperbaiki hubunganku dengan si Tukang Kayu, karena sesungguhnya, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Si Tukang Kayu pun, dalam kebingungannya, lambat laun mulai menjauh dari ku. Ketika aku memberianikan diri, untuk mencoba menjelaskan kepadanya, dia tak mau memberikan ku satu kesempatan pun. Hmm.. Mungkin dia juga jenuh dan marah dengan sikap ku. Sikapku yang sering kali mengusik dirinya. Atau mungkin, memang aku benar2 menyebalkan. Kucoba mendekat, semua nya sia-sia. Si Tukang Kayu terlanjur marah. Begitu banyak hardikan dan amarah yang terkadang tak ku mengerti, tertumpah kepadaku.
Kini aku hanya bisa melihat mereka dari jauh. Sedikit sakit rasanya ketika aku mengingat masa satu tahun yang lalu. Tapi… Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, ketika Si Tukang Kayu memilih persahabatannya bersama Si Ragil. Seandainya mungkin, kiranya izinkanlah aku menjelaskan dari sisiku. Bahkan ketika aku meminta, dengan sedikit memohonpun, Si Tukang Kayu tak memberikanku kesempatan.
Ragil, boleh kah aku mengatakan, kalo aku benar2 sediiiih dan kecewa. Kalau bukan kamu yang melakukan hal ini, mungkin aku tdk akan merasa sesakit ini. Namun karena ini kamu, orang yang teramat kupercaya, orang yang namanya tercantum, dalam list khusus ku. Bagaimana aku dapat mengatasinya?
Sendiri… aku kehilangan dua hal.. Sebuah persahabatan dgn Si Ragil… Dan sebuah rasa sayang yang terlanjur hadir di dalam hati ku kepada Si Tukang Kayu.

 

 

Setahun lalu, Si Tukang Kayu menggambar jangkar di tangan kanan ku. Setelah itu, dia langsung melepas tanganku, sampai jatuh ke bawah saat si Ragil berulang kali mengambil foto kami. Yaaa.. Kira2 seperti itulah rasanya…

Happy Valentine’s day, anyway :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 115 other followers