Di Sana, di Bawah Altar Nya


Hey…  it’s already February… Hmmm.. ga berasa yah.. waktu berjalan sangat cepat… seperti lari sprint.. tau-tau nanti sudah akhir tahun saja. Cuaca lagi melow-melow nya, membuat yang melow jadi tambah melow *sekalian curcooool* :P

Rasanya, aku mulai tidak kuat untuk menjalani emosi yang bak roller coaster seperti ini. Sungguh amat sangat melelahkan. Mana belum menentu lagi, akan berakhir kemana. Benar-benar mengalami pengacuhan yang luar biasa ( ini apa sih bahasanya.. pengacuhan… hehe… ) Tapi ya bener juga sih.

Masih perlu dipertanyakan yah apakah aku mengasihinya atau tidak? Kalau aku bisa mengontrol lidahku untuk berdiam diri terhadap semua hardikannya, kalau aku bisa terus menerus menyapanya terlebih dahulu walaupun aku tahu akan kemungkinan besar hatiku akan tergores-gores oleh pemilihan kata-katanya, kalau aku mau merendahkan hatiku serendah-rendahnya, membuka hatiku selebar – lebarnya terhadap dia.. masih bolehkah aku berkata aku tidak menyayanginya? *Tidak perlu dijawab barangkali.*

Teringat akan masa satu tahun lalu, teringat akan segala hal manis yang biasa kami lakukan, hmmm…. Ya Tuhan, time goes fly so fast. So, malam tadi, aku mampir ke Rumah Bapa ku. Mengambil secarik kertas super kecil, kemudian menuliskan nama nya disana. Lalu kulipat kecil.. sangat kecil. Di tengah-tengah rekan-rekan yang sedang latihan, di antara kegiatan sermon di pojok sana yang sedang berlangsung, aku duduk diam, di kaki altar. Sekedar mengobrol dengan Bapa ku :

Bapa, aku lelah dengan semua ini. Pun aku tak tahu, ke arah mana ini akan berakhir. Engkau pasti tahu apa yang kurasakan. Maka aku menaruh sebuah nama disini, di altar Mu. Jika Engkau menginginkan ku untuk mendampinginya seumur hidupku, maka biarlah Bapa membukakan jalan untuk kami berdua. Kuatkan lah hatiku dan sabarkanlah hatinya. Tetapi jika ini hanya inginku, dan bukan ingin Mu, maka kuserahkan dia kepada Mu. Mungkin bukan aku yang mampu untuk mengasihinya seperti kasih Mu. Dan kumohon, siapkanlah aku, untuk mendampingi orang yang telah Kau pilih, yang sudah Kau janjikan kepadaku. Juga untuknya, berikanlah dia wanita sempurna yang dapat (dengan lebih dalam  lagi) menyayanginya.

Lalu, masih dengan diam, kuletakkanlah kertas kecil itu, kertas dengan inisial nama mu, sayang… di sana.. di bawah altar Nya :’)

2 Comments (+add yours?)

  1. irna bontor febyola
    Feb 04, 2012 @ 00:42:41

    wohohoho besok daku akan liat masih adakah kertas kecil itu di altar ahahahahaha #penasaran. jadi jadi jadi, hr kamis kmaren adalah ajang penaruhan kertas rupanya :) ) weslah, tak bantu via doa :D Gbu sista^^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 115 other followers