.s.a.k.i.t.

Pembicaraan yang sempat memanas sore tadi, membuatku tercengang dan terpukul. Sempat terdiam di meja kerjaku, tanpa bisa mengerjakan apapun. Kupindahkan kursor komputer, agar segala macam tulisan yang sudah sempat tertumpah di sana, kiranya dapat kumengerti, atau setidaknya kubaca ulang.

Entah mengapa rasanya hati ini sakiiiiit sekali kamu perlakukan seperti ini. Belum pernah ada seorangpun teman priaku yang berkata-kata sedemikian perihnya kepadaku. Tidak seorangpun. Namun sore tadi, kamu benar-benar membuatkuterdiam. Sebegitu salahnya kah aku di hadapanmu, sehingga seluruh kata-kata itu layak kamu tujukan kepadaku? Sebegitu marahnya kah kamu, ketika kamu terbaca olehku? Rasanya ngeriiiii sekali.

Aku mencoba bertahan, mengatupkan bibirku, menggiring kepalaku untuk terus menatap plafon kantor, agar tidak ada air yang bisa jauh dr kerling mataku. Mencoba bekerja sama dengan kesepuluh jariku, agar tidak mengetikkan kata-kata yang tidak pantas. Dan mencoba mengusap dadaku berkali-kali, seolah berbisik kepadanya : sabaaaaaaarr.

Dan akhirnya aku bertahan. Entah dengan kekuatan dari mana yang kudapat, sehingga aku dapat menanggapi seluruh kepedihan yang kudapat sore tadi. Satu yang kukatakan kepada diriku sendiri : kamu tidak tahu keadaan ini secara utuh, dan tak mungkin pula kukatakan kepadamu.

Pilu, ya hatiku pilu teramat sangat. Seandainya kamu tahu keadaan ini secara utuh, gumamku dalam hati. Berkali-kali aku menarik nafasku dalam-dalam, berharap kiranya setiap udara yang kuhirup dapat membantu mengumpulkan pecahan-pecahan hatiku di dalam sana.  Membuang nafas dengan panjang, dengan harapan segala kesakitan yang ada di dalam hatiku kiranya juga bisa terbawa keluar.

Sepertinya aku tidak sekuat itu untuk bisa bertahan di tempat ini. Lambat laun kakiku goyah, lututku gemetar karena takut.

Aku takut jika ada kata-kataku menyakitimu, karena aku tahu kamu akan membalasnya berkali-kali lipat.

Aku takut, jika pendapat yang keluar dari mulutku akan benar-benar kamu taruh di bawah telapak kaki mu.

Aku takut,  jika suatu saat dimana aku benar-benar butuh kamu, kamu akan menjadi orang yang justru akan menghardik aku.

Segalanya… segalanya lalu lalang di kepala ku malam ini.

Mungkin aku bukan orang yang terlalu pandai , bahkan juga wanita secara fisik tidak akan pernah bisa disejajarkan dengan Nikita Willy atau Sandra Dewi. Pastinya, aku bukan orang yang paling tahu akan segalanya. Aku hanyalah seorang wanita biasa, dengan hati yang juga sudah pernah tercabik-cabik, yang menunggu janji Tuhan atas diriku. Sempat terpikir olehku, kalau rencana itu digenapi bersama denganmu. Hmmm… tp bagaimana mungkin, kamu pun belum bisa terlepas dari bayang masa lalumu.

Sakit?? iya …. bangeeeeeet cui :’(

Give up?? No way…

Back sound : Tuhan Pegang Tanganku – Rio Silaen :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 110 other followers