Izinkanlah Aku Menangis Malam Ini

Siang ini, tubuhku terasa sangat tidak bergairah. Lemas dan tidak bersemangat. Mungkin karena si tamu bulanan kembali menyapa di hari pertama. Tidak ada sedikitpun keinginan untuk melakukan sesuatu, Wanita menulis, corat - coret, surat kecuali hmmm…. mengambil pulpen dan mencorat coret kertas bekas meeting di hadapanku.

Ketika satu kata selesai tertulis, aku menarik nafas dalam – dalam, dan menghembuskannya kembali dengan cepat, lalu berpindah ke kata yang selanjutnya. Begitu seterusnya, berulang – ulang. Setelah kuperhatikan dengan lebih seksama, ternyata tanganku hanya berulang kali menuliskan kata-kata yang sama.  Kini kata “help” , “Lord” dan sebuah kata lain, lebih tepatnya inisial yang terdiri dari tiga huruf, sudah memenuhi pinggiran kertas bekas rapat mingguanku.

Sambil menulis, pikiranku kembali membuka segala hal yang sudah terjadi dibeberapa bulan yang lalu. Rasa nyeri di bagian bawah perutku, justru menajamkan ingatanku. Tepat tiga kali tamu bulananku sebelumnya menyapa, itulah masa terakhir dimana kami memiliki komunikasi yang baik. Berarti sudah dua bulan tepat, komunikasi yang ada terjalin dengan amat sangat minim. Bahkan bisa dikatakan tidak ada. Lalu aku bertanya kepada diriku sendiri : jika sekarang ini aku memiliki rasa rindu kepadanya, bukankah hal ini wajar? Atauuuu… apakah sebenarnya tidak wajar? *membenamkan wajahku pada lengan*

Di jam istirahat yang lalu, aku menemukan sebuah tulisan :

Ketika wanita menangis,
itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya,
melainkan justru berarti dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya.

Ketika wanita menangis,
itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya,
melainkan karena pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air matanya.

Ketika wanita menangis,
itu bukan karena dia ingin terlihat lemah,
melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura-pura kuat.

Tuhan Yesus, jikalau rasa yang kini hadir di hatiku ini salah, ku mohon hilangkanlah rasa ini dan jikalau rinduku ini tidak seturut rancangan Mu, buanglah jauh – jauh rindu ini. Kumohon kuatkan hatiku untuk menerima jawaban Mu dan mungkin.. izinkanlah aku menangis malam ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 110 other followers